
Bulan juni 1919, istana mengumumkan bahwa calon istri Hirohito adalah
Nagako, yang berasal dari keluarga bangsawan Pangeran Kuniyoshi. Lima tahun
kemudian yaitu pada tahun 1924, mereka menikah dengan segala kemeriahan dan
kemegahan. Dengan perkawinan itu diharapkan kelangsungan garis kekaisaran dapat
terus berlanjut melalui anak laki-laki pewaris tahta kelak.
Menurut tradisi Jepang, yang penting adalah sang bapak, siapa ibunya
tidak terlalu dipersoalkan, apakah permaisuri atau selir, asal dapat memberi
keturunan anak laki-laki. Karena itu dimulai serentetan usaha untuk membujuk
Kaisar Hirohito mengambil selir, bahkan Kepala Rumah Tangga Istana memberikan
beberapa foto wanita yang dianggap cocok sebagai selir kaisar. Berkali-kali
istana mengadakan pesta yang khusus mengundang wanita dengan harapan mungkin
ada yang dapat merayu kaisar. Tetapi semua usaha itu sama sekali tidak ditanggapi
kaisar. Kaisar Hirohito tetap setia kepada ratunya. Ia berkata bahwa ia sama
sekali tidak ingin menodai kesucian perkawinan mereka. Sekali ia sudah memilih
Ratu Nagako sebagai istrinya, ia akan tetap setia kepadanya. Bahkan Kaisar
Hirohito menegaskan, apabila ia tetap tidak mempunyai anak laki-laki,
saudaranya pangeran Chichibu bisa saja dinobatkan sebagai kaisar. Dengan
keteguhan hati seperti itu, Kaisar Hirohito menolak setiap bujukan untuk
mengambil selir.
Akhirnya kesetian itu membawa buah menggembirakan. Sang ratu melahirkan
anaknya yang kelima, seorang putra, yang bernama Akihito.
Kesetiaan
Kaisar Hirohito memang sungguh mengagumkan. Sebagai seorang yang dianggap
“dewa” oleh rakyatnya, ia dapat saja mengambil selir sebanyaknya. Tetapi sikap
setia dalam pernikahan ini sungguh amat terpuji. Karenanya orang-orang yang
percaya kepada Kristus harus lebih terpanggil untuk mengasihi dan selalu setia
terhadap pasangan hidupnya.
Dikutip dari buku Embun Surgawi, Pdt. Ishak Sugianto
I Korintus
13:4-7
Kasih itu
sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang
lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia
menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,
sabar menanggung segala sesuatu.
Selamat Siang
BalasHapusSaya mahasiswa fotografi sedang melakukan studi ttg sejarah fotografi Indonesia.
Kalau blh tanya fotonya diambil dimana dan siapa fotografernya dan sumbernya dari mana?
terimakasih :)
Untuk melihat sumber dari foto ini, saudara bisa tekan control+klik kiri. dari sana akan dapat alamat dari foto KAISAR HIROHITO.
HapusTERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA DAN MOHON MAAF BARU BISA DIBALAS KARENA KESIBUKAN.
sekali lagi TERIMA KASIH.
Andai semua laki-laki seperti sang kaisar
BalasHapusAndai semua laki-laki seperti sang kaisar
BalasHapusSemoga @Anista Auria menemukan sosok yang setia.
HapusTerima kasih atas kunjungannya.
Kiranya bisa menjadi inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.